13 Mei 2016

Tradisi Membaca Hikayat Perjalanan Rasulullah

By Admin Web In Budaya
IMG_7860

Manuskrip terjemahan kitab kisah perjalanan Nabi.

MANUSKRIP itu disalin dari kitab Hikayat Perjalanan Rasulullah ke Langit. Bertulis aksara arab melayu, kitab ini berkisah secara mendetail perjalanan Rasulullah bersama malaikat Jibril dengan tunggangan Buraq.

Di Daik ada tradisi membacakan kitab tersebut pada  Peringatan Isra dan Miraj.  Pada saat perayaan itulah masyarakat berkumpul memuliakan masjid, bersilaturahmi, dan  mendengarkan lagi kisah perjalanan Nabi Muhammad menjemput perintah shalat lima waktu dari langit.

IMG_7858

H. Nadar membaca kitab pada perayaan Isra Mikraj.

Pembacaan kitab lama tersebut begitu menarik. Sayang, kini tidak semua masjid, surau melaksanakannya lagi. Beberapa telah berubah. Mengikuti perkembangan zaman. Peringatan hanya diisi dengan ceramah dan tausiah. 

Namun banyak juga, surau-surau yang masih tetap mempertahankan tradisi ini. Di Daik, seperti di surau Al-Jihad dan di kampung Seranggung serta di sejumlah kampung hingga di desa pesisir Benan, Senayang warga masih gemar mendengar kisah perjalanan nabi.


Maman, salah seorang pemuda di desa Benan, mengatakan kisah perjalanan Isra Miraj Rasullullah memberi pelajaran yang begitu banyak. Setiap sudut cerita, memberi pemahaman yang kadang selalu dilupakan dalam sebuah penyampaian ceramah.

“Seperti kisah Nabi Muhammad sampai dilangit. Beliau bertemu dengan Nabi Musa dan membuat Nabi Musa terisak-isak menangis. Dapat bertemu langsung dengan kekasih Allah tersebut,” jelas Maman yang ingin tetap melestarikan pembacaan kitab lama tersebut agar generasi muda kelak dapat mengambil hikmah dari kisah Rasullullah.

Selain Maman, Salim warga desa Benan lainnya mengatakan, kisah perjalanan tersebut menurutnya memiliki pelajaran dan pertanyaan yang harus dijawab manusia dengan akal yang diberikan oleh Allah.

“Banyak pelajaran disana. Ada yang tersurat, ada pula yang tersirat. Tradisi ini masih kami jalankan di kampung dan semoga tetap bertahan di semua wilayah Daik ini,” tambahnya.

Sementara di Daik sendiri, dikatakan Fadli, setiap tahun memang perkembangan pembacaan kisah hikayat perjalanan Isra Miraj ini ke Langit hanya dipertahankan oleh beberapa kampung saja.

Di Masjid Sultan, H Abd Gani, Surau Al Jihad Tanda Hilir, H Nadar dan di kampung Seranggung Adam Ibrahim yang masih sering menjadi pembaca kisah perjalanan nabi tersebut.

“Cara pembacaannya yang unik. Seperti gaya kisah yang sering dibacakan orang-orang Aceh \, mirip seperti irama mengaji namun berbahasa melayu,” kata Fadli.

Sebelum banyak dibangun surau-surau di kampung, kata Fadli, di kediaman Datonya, Alm Khalid Hitam, salah seorang guru agama di Daik selalu menjadi tempat warga berkumpul. Mendengar kisah perjalanan nabi Muhammad SAW.

“Dulu sebelum surau ada di setiap kampung, bacanya ngumpul di rumah, kadang siang kadang ada juga malam. Warga dan jemaah yang datang membawa kue dan air manis. Selesai membaca dan berdoa, barulah menyantap makan bersama-sama. Dulu di rumah sayapun sering baca hikayat, era tahun 90-an,” kata Fadli.

Sepeninggalan Dato nya, Fadli masih menyimpan kitab salinan yang diberi judul Kisah Hikayat Perjalanan Nabi ke Langit.

“Yang saya punya sebuah kitab salinan, asalnya diterjemahkan dari bahasa Arab Oleh Syaikh Daud bin Abdullah Al Fatani. Ini tulisan tangan baru, selesai disalin pada 21 nov 1963 oleh almarhum datuk saya di Kampung Sawah Daik. Jumlah 123 halaman,” kata Fadli.

Sementara kitab yang dipegang H Nadar, kisah perjalanan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW tersebut, adalah Alamat Surat Manakib Tuan Syekh Muhammad Saman beserta Surat Mikraj yang punya Haji Muhammad Idris bin Muhammad Tahar, Kampung Delapan Ilir Sungai Bayas adanya.

“Ini kitab, maktabah walmatbaah, Sulaiman Mar’i. Penjual dan Penerbit kata-kata agama dengan nomor kode 35,40 Basariyah, Singapura. Jumlahnya 48 halaman,” jelas Nadar.

Isi dari kitab lama beraksara melayu, dikatakan Nadar, memiliki pesan yang begitu kuat. Kisah perjalanan yang lebih detail.

“Intinya, berjumpa dengan Allah butuh keikhlasan dan hati yang bersih. Dijadikan bumi karena  Nabi Muhammad. Bahkan, untuk Isra dan Mikraj, Nabi Muhammad yang namanya sudah tertulis di pintu surga dan kekasih Allah itu harus dibelah dadanya dan disucikan dari kotoran dan penyakit hati,” jelas Nadar membaca sebuah kalimat.

“Nabi Muhammad juga memuji nabi-nabi sebelumnya. Dia penghulu seluruh nabi, nabi habib. Nabi musa, saja menangis yang karena berjuma nami Muhammad kekasih Allah yang jauh lebih muda dan mulia daripadanya. Iktibar, menghadap Allah menanggalkan baju dan bersih.

Kisah ini sangat bagus, banyak yang tersurat dan tersirat,” sambungnya. Foto dan teks: Muhammad Hasbi.

 

Komentar

komentar