28 Mei 2016

Tengku Sulaiman, Sultan terakhir dari Dinasti Bendahara 

By Admin Web In Budaya

Oleh Ildaf Al Kiad

lingga-Badr

Sultan Sulaiman

Tengku Sulaiman bin Sultan Abdurrahman Syah adalah Sultan Lingga – Riau IV. Gelarannya Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah. Ia mulai memerintah sejak tahun 1857 hingga 1883.  Tengku Sulaiman naik tahta tahun 1857 menggantikan anak saudaranya Sultan Mahmud Muzzafarsyah IV yang dipecat Hindia Belanda.

Sultan Sulaiman naik tahta saat Kerajaan tengah berada di masa suram era penjajahan, diapun naik tahta atas persetujuan Belanda setelah diusulkan oleh mantan iparnya Raja Muda Abdullah.

Tengku Long penguasa Retih tidak setuju terhadap pemecatan Sultan Mahmud oleh Belanda, karena itu ia menolak penabalan Sultan Sulaiman.

Di dalam Tuhfat Al-Nafis Raja Ali Haji mengatakan: Maka taatlah mereka itu, melainkan tempat yang bernama negeri Retih rajanya dari pada Raja Lanun namanya Raja Lung, sudah digelar oleh Sultan Muhammad bernama Panglima Besar diserahkan Retih itu kepadanya. Dan ialah yang tiada mau menyembah Sultan Sulaiman…

Perlawanan itu akhirnya ditumpas habis-habisan oleh gabungan pasukan Kerajaan Lingga Riau dan Belanda.

Semasa Sultan Sulaiman menduduki tahta, adik lelakinya Tengku Daud menjadi putera Mahkota, dalam adat diraja Melayu putera Mahkota bergelar Tengku Besar. Namun sayangnya Tengku Besar Daud terlebih dahulu mangkat. Setelah mangkatnya Tengku Besar Daud tak seorang pun ahli waris diberi gelar Tengku Besar.

 

Zuriat Dinasti Bendahara Terakhir

makam Sultan Sulaiman

Makam Sultan Sulaiman di Bukit Cengkih.

Entah beliau menyadari atau tidak kenyataannya dialah Sultan terakhir Lingga – Riau dari keturunan Dinasti Bendahara Seri Maharaja Johor. Sultan Sulaiman adalah zuriat dari Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I yang membuat perjanjian sumpah setia dengan Bugis bersaudara. Sungguh sayang Sultan Sulaiman tidak mempunyai anak lelaki yang bisa mewarisi tahta. Sedangkan pewaris-pewaris tahta yang lain sepertinya tidak mempunyai pengaruh politik untuk menjadi Sultan.

Sultan Sulaiman mangkat di Daik pada 17 September 1883. Sultan terakhir dari Dinasti Bendahara ini dimakamkan di Bukit Cengkih berhampiran dengan makam Ayahandanya Sultan Abdurrahman Syah I dan Kakandanya Sultan Muhammad Syah.

Mengapa Sultan Sulaiman dikatakan sebagai Sultan terakhir Lingga – Riau dari dinasti Bendahara? Secara genealogi baginda adalah turunan lansung sebelah laki – laki dari Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I.

Silsilahnya adalah Sultan Sulaiman bin Sultan Abdurrahman Syah bin Sultan Mahmud Syah III bin Sultan Abdul Jalil bin Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah bin Sultan Abdul Jalil bin Bendahara Seri Maharaja Johor Tun Habib Abdul Majid I.

Buyutnya Sulaiman Badrul Alam Syah I membuat perjanjian sumpah setia dengan Raja Muda Bugis maka dialah juga Sultan terakhir yang membuat perjanjian itu. Setelah kemangkatannya tidak satupun ahli-ahli waris menduduki tahta kerajaan.

Para bangsawan istana yang sangat berpengaruh masa itu terutama Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf bersetuju tahta Kerajaan dipangku oleh Isterinya Tengku Embong Fatimah yang sekaligus anak dari Sultan Mahmud Muzzafar Syah. Inilah akhir dari putusnya zuriat sebelah Sultan Melayu keturunan dinasti Bendahara menjabat sebagai Sultan.

 

Catatan Tengku Muhammad Saleh

Tengku Muhammad Saleh salah seorang zuriat Sultan Muhammad Syah dalam tulisan sejarah ringkas Kerajaan Lingga – Riau ada menceritakan tentang pengangkatan Tengku Embong Fatimah sebagai pemangku Kerajaan.

Beliau menulis dengan sumber-sumber sejarah dari lingkungan istana terutama dari keluarga besarnya. Tengku Muhammad Saleh dikenal sebagai seorang ulama Lingga. Lahir di Daik tanggal 25 Januari 1901 dan wafat di Daik pada 10 oktober 1966, beliau juga telah menghasilkan dua karya tulis bidang agama yang pernah diterbitkan di Ahmadiah Pres Singapura yakni bidang fiqih karyanya berjudul Nurussalah, sebuah buku fiqih shalat dan sebuah lagi karyanya berjudul Tajwid Al Fatihah tentang tata dan kaidah membaca surah Al Fatihah.

Tengku Muhammad Saleh adalah anak Tengku Abu Bakar bin Tengku Husin bin Tengku Ustman bin Sultan Muhammad Syah. Ayahnya Tengku Abu Bakar seorang pejabat Istana. Dari beberapa arsip surat-surat yang pernah dikeluarkan oleh Sultan Abdurrahman Muazzam Syah dan lainnya yang sekarang masih dalam simpanan Tengku Husin anak dari Tengku Muhammad Saleh, bahwa Tengku Abu Bakar pernah menjabat sebagai pejabat keuangan di Lingga, Ahli Al Musyawarah Mahkamah Negeri Lingga, Pembantu wakil Kerajaan, dan pernah juga menjadi Amir Lingga.

Dari tulisan ringkas sejarah Lingga Riau beraksara arab Melayu yang selesai ditulis Tengku Muhammad Saleh pada 14 Agustus 1935 kita bisa membaca:  Dan tidak berapa antara itu tahun hijriah 1300 pada 16 Zulqaidah Sultan Sulaiman pun mangkat pula yaitu berbetulan tahun masehi 1883 kemudian dimakamkan jenazahnya di Lingga Daik dibukit Cengkih. Oleh Karena Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah tidak ada meninggalkan putera yang laki2 boleh menggantikan kerajaan. Kemudian dari pada mengaku Tengku Fatimah cucundanya binti Sultan Mahmud memegang kerajaan Lingga Riau barulah dibawa jenazah Al Marhum itu ke bukit cengkih dimakamkan. Karena adat istiadat Raja2 Melayu yang mangkat tidak harus ditanamkan jenazahnya sebelum ada gantinya supaya layaklah dengan dia dimakamkan. Tetapi waris2 yang lain dari pada pihak Al Marhum keratun masa itu masih banyak ada hidup seperti Tengku Said dan Tengku Mahmud dan Tengku Husin…

Selepas setahun lebih Tengku Embong Fatimah memegang Kerajaan, tahta Kerajaan kemudian diduduki anaknya Raja Abdurrahman bin Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf. Dengan pengangkatan Raja Abdurrahman sebagai Sultan Lingga – Riau yang bergelar Sultan Abdurrahman Muazzam Syah – maka putuslah zuriat-zuriat dinasti Bendahara keturunan Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah I untuk mewarisi tahta.

Raja Abdurrahman bukanlah keturunan sebelah Melayu dari dinasti Bendahara, ia keturunan Dinasti Bendahara dari sebelah ibu dan sekaligus Keturunan Bugis yang lebih tepat menjabat sebagai Raja Muda. Namun sumber-sumber sejarah lain sangat sulit didapatkan untuk mengetahui suasana politik istana saat peralihan kekuasaan kala itu. Keadaan itu bisa juga dikaitkan dengan adanya pengaruh campur tangan Belanda. Sejak Kerajaan Lingga – Riau dijajah Belanda pengangkatan Sultan dan Raja Muda memerlukan persetujuan Belanda.

Dari buku “Surat-Surat Perdjandjian Antara Kesultanan Riau dengan Pemerintahan2 V.O.C dan Hindia – Belanda 1784 – 1909” terbitan ANRI, pada halaman 193 berisikan tentang sumpah janji persetiaan Raja Abdurrahman yang akan menjabat Sultan kepada Raja Belanda dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda dan pada hal 195 surat pernyataan Residen Belanda A.H. G. Blokzeijl akan menyetujui tentang Raja Abdurrahman dilantik sebagai Sultan dengan syarat terlebih dahulu wajib disetujui Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Dari sumber arsip tersebut diketahui bahwa naik tahtanya Raja Abdurrahman telahpun mendapat restu Belanda.  Dalam sejarah Lingga Riau Raja Abdurrahman sesungguhnya Sultan pertama dan terakhir keturunan Bugis.

 

Sultan Sulaiman dan Kebun Sagu

CIMG9867

Kampung Sawah, dahulu di sinilah Sultan Sulaiman mencoba membuka sawah.

Sejarah pemerintahan Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II berhubungan juga dengan dunia perkebunan, pertanian dan pendidikan. Pulau Lingga sejak lama sebagai penghasil sagu dan sampai sekarangpun sebagian masyarakat masih ada bekerja mengolah sagu, namun sayangnya harga sagu tidak mengalamai kenaikan , mengakibatkan sebagian kurang berminat untuk terus bekerja. Sagu diera Kerajaan Lingga Riau adalah bagian dari komoditas barang hasil perkebunan yang dibawa keluar Lingga, penjualan sagu turut memberikan masukan pada sektor pajak kerajaan.

Sultan Sulaiman yang melihat usaha sagu bisa memberikan keuntungan kemudian mengajak masyarakat memperbanyak penanaman sagu di lahan kosong dan membuka usaha pengolahan dan perniagaan sagu . Ianya telah membuka pabrik sagu dan menggunakan kapal dagang sendiri mengirimkan sagu ke luar daerah.

Bekas reruntuhan pabrik sagunya masih dapat ditemukan di Daik. Sisa bangunan pabrik di Kampung Robat masih dapat dilihat dan sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Sebelumnya dia telah mencoba untuk mengusahakan pembukaan sawah padi di Daik dengan mendatangkan para pekerja dari Kalimantan dan Bogor namun usaha itu gagal. Daerah lahan sawah yang gagal diusahakan itu masih terus disebut sawah, dan menjadi pemukiman penduduk. Masa sekarang ini kawasan kampung sawah telah bertambah ramai penduduk.

Kebijakan tentang pertanian dan menggalakkan perkebunan sagu era Sultan Sulaiman itu ialah satu usaha memberikan kemajuan ekonomi bagi masyarakat. Usaha perkebunan dan pertanian memberikan alternatif lain dalam bidang ekonomi kala itu dan sepertinya sebuah upaya Sultan untuk menjadikan kerajaan kepulauan sebagai negeri agraris.

Walapun usaha sawah padi itu gagal namun ide-ide Sultan Sulaiman sebuah ide besar dalam bidang pangan dan ide-ide itu masih sesuai dengan kekinian. Sultan Sulaiman mencoba menjadikan masyarakat maritim era itu untuk merangkap sebagai masyarakat agraris. Sebuah ide-ide maju untuk menguatkan ekonomi masyarakat. Masyarakat bisa mencari nafkah dari sumber di lautan dan daratan.

 

Sekolah untuk Rakyat

Bukan saja perhatian dalam bidang perkebunan dan pertanian Sultan Sulaiman sangat peduli juga dengan dunia pendidikan. Mungkin melihat kondisi dunia pendidikan rakyat sekitarnya dan pengaruh hubungannya dengan orang- orang Belanda terpelajar atau pengalaman dari perjalanannya keluar daerah telah membuka mata dan pikirannya untuk peduli pada dunia pendidikan.

Pada tahun 1877 ianya telah membuka sebuah sekolah umum bagi rakyat di Daik. Sebuah sekolah untuk masyarakat umum dan pertamanya satu-satunya sekolah yang dibuka oleh kerajaan. Kebijakan itu telah membuka satu era baru bagi pemerintahan Lingga-Riau dalam dunia pendidikan modern yang bersifat resmi.

Selama ini dunia pendidikan tulis baca, agama dan pengetahuan umum didapatkan masyarakat dari pendidikan non sekolah resmi. Mereka mendapatkan pelajaran dari para guru gratis yang mengajar di rumah–rumah ataupun di surau. Hanya para bangsawan di lingkungan istana yang mempunyai akses luas terhadap dunia pendidikan. Mereka yang mempunyai modal besar sanggup mencari dan mendatangkan para guru – guru. Bisa dilihat di Tuhfat Al Nafis tentang kisah Raja Muda mengundang para ulama-ulama di ke Istana untuk mengajarkan agama.

Dengan adanya Sekolah yang dibangun telah memberikan kemudahan masyarakat dalam dunia pendidikan. Ide ide dan usaha-usaha Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah II itu alangkah baiknya terus dilakukan sesuai dengan era kekinian.

Komentar

komentar