18 Mei 2016

Menanti Menteri Lacak Vasco da Gama di Lingga

By Admin Web In Alam, Budaya

 

 

Pulau Buaya

Perairan laut di Pulau Buaya, diperkirakan di sekitar sinilah kapal Vasco da Gama tenggelam.

 

MENTERI Kelautan dan Perikanan Susi Pujiastuti menegaskan pengangkatan Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di perairan Indonesia harus dilakukan oleh negara bukan swasta apalagi asing.

Termasuk pengangkatan kapal bersejarah Vasco da Gama, BMKT yang diduga kini masih tersimpan di perairan Lingga, Provinsi Kepulauan Riau.

Seperti dilansir situs detik.com Menteri Susi ingin memamerkan harta karun yang berhasil diangkat di Indonesia untuk di pajang di kantor KKP. “Kita mau bikin display di KKP, biar bisa dipamerkan dan masyarakat kita bisa lihat,” ungkpa Susi, Senin (16/5) di Jakarta.

Selama ini, pengangkatan BMKT di Indonesia terang Susi, diangkut oleh pihak swasta dengan perjanjian bagi hasil 50:50. Selalunya, barang-barang bagus diambil oleh pihak swasta dan sisanya baru diberikan kepada pemerintah. Selain itu, barang berharga harta karun laut di Indonesia itu juga oleh perusahan dilelang diluar negri dengan harga yang fantastis. Sehingga barang-barang yang harusnya menjadi aset sejarah di Indonesia inipun, menjadi koleksi para kolektor.

KKP sendiri terang Menteri Susi, kini berupaya menghindari pengangkatan BMKT oleh pihak swasta. Sejak tahun lalu telah dibuat moraturium. Susi ingin, harta karun tersebut yang tersebar sedikitnya ada 400 titik kapal karam diangkut oleh pemerintah agar tidak jatuh kepihak lain.

Sudah lebih dari setengahnya kita angkut. Saya inginkan angkut sendiri saja. Kita anggarkan, minta itu pasukan tentara untuk menyelam. Hasilnya bisa buat kita sendiri,” ujarnya seperti dilansir detik.com.

“Saat ini yang saya kejar itu  Vasco de Gama. Itu yang paling besar. Saya kira ada di Pulau Lingga,” kata Susi.

Sementara itu, di kabupaten Lingga beberapa waktu lalu Panitia Nasional BMKT, memberikan rekomendasi izin kepada PT Cosmix Asia untuk melakukan pengangkatan BMKT di perairan sebelah barat pulau Lingga. Tepatnya di perairan desa Batu Belubang, kecamatan Senayang, Lingga, Kepri.

Terdapat dua titik pengangkatan BMKT. Jaraknya hanya 5 dan 8 mil laut dari pemukiman kampung nelayan.

Menurut informasi warga, dalam proses pengangkatan tahun 2015 lalu, tak kurang dari 10.000 piring dan barang pecah belah lainnya dari dinasti Song, abad ke-11 berhasil diangkat. Dari dua buah kapal Cina yangmembawa mangkok, piring dan guci. 

 

Tak tanggung-tanggung, untuk biaya pengangkatan barang dari Dinasti Song yang merupakan kapal dagang asal Cina yang membawa barang-barang seperti mangkok, guci, dan piring pengusaha yang bergelut di bidang kemaritiman ini tak segan-segan mengeluarkan kocek yang cukup untuk pengangkatan.

”Untuk satu lokasi sekitar US$ 6-7 juta,” ujar dia. Biaya tersebut, menurut Harry, meliputi biaya operasional, seperti upah penyelam, bahan bakar kapal, dan restorasi benda muat kapal tenggelam.

Namun, sampai saat ini pemerintah daerah tidak pernah mendapat hasil balik 50:50 tersebut. Begitu juga warga di Batu Belubang yang selama ini menjaga dan memberikan informasi tersebut. Menurut salah seorang warga yang ikut terlibat dalam pengangkatan, ia membenarkan ada 10.000 lebih barang yang diangkat dan telah dilelang perusahan di Singapura.

“Banyak dapatnya, mangkok, piring dan guci. Katanya langsung dibawa ke Singapura untuk dilelang,” kata seorang warga Batu Belubang.

Beberapa waktu lalu, pemerintah kabupaten Lingga juga kembali digegerkan dengan aktivitas ilegal armada Salvage 8, yang diduga mencoba menjarah BMKT perairan Lingga di Selat Pintu, Senayang.

Warga langsung melaporkan hal tersebut ke pemerintah dan Bupati Lingga Alias Wello langsung turun ke lokasi mengamankan. Saat ini kasus Salvage 8, yang diketahui bekerja di perairan Batam, tersebut telah dilimpahkan ke kejaksaan untuk diproses karena tindakan ilegal dan diketahui memperkerjakan 18 warga negara asing (WNA) asal Cina.

Kekayaan BMKT dan harta karun di bawah laut Lingga memang masuk akal sebab sejak abad ke 7, Lingga telah menjadi jalur pelayaran dunia. Sejumlah kapal yang lewat diduga banyak yang karam hingga kini masih berada di dasar laut.

Encik, warga Batu Belubang menuturkan pada tahun 1986 lalu, saat Soeharto masih berkuasa, BKMT di Batu Belubang, tepatnya disekitar pulau Buaya juga telah diangkat. Ratusan ton emas batangan, berhasil diangkut.

Lebih dari dua bulan proses, dengan sejumlah kapal perang pengawas, helikopter dikerahkan memantau pulau kecil kampung nelayan tersebut.

“Tahun ratusan ton itu yang luar biasa. Emas batangan yang diangkat,” cerita Encik.

Hingga kini kemana perginya harta karun dari dasar laut pulau Lingga tidak diketahui kemana rimbanya. Bahkan, yang lebih miris lagi, kampung nelayan dengan 300 kepala keluarga (KK) hanya dijadikan penonton. Padahal, wargalah yang memberikan titik tersebut kepada pemerintah.

Tomy Soeharto, dikatakan Encik, waktu itu juga ikut turun langsung menggunakan helikopeter di lapangan sepakbola desa.

“Satu-satunya yang warga dapat, kita dikasi satu buah Al Quran,” tuturnya.

Dugaan kuat, muatan BMKT bermuatan emas tersebut adalah salah satu dari kapal Vasco de Gama yang tenggelam di perairan Lingga. Hal tersebut terlihat dari jenis emas batangan yang telah tercetak rapi dan berbeda dari temuan masyarakat sebelumnya seperti barang pecah belah dari Cina.

 

Muhammad Hasbi

 

Komentar

komentar