7 Juni 2016

Dan Padi pun Berbulir di Sungai Besar

By Admin Web In Alam
IMG_8626

Adi Indra Pawennari di tengah hamparan tanaman padi yang sudah berbulir di Sungai Besar, Lingga, Selasa (7/6).

 

PADA umur 74 hari setelah penanaman dengan sistem tabela  alias tanam benih langsung, padi di desa Sungai Besar, kecamatan Lingga Utara sudah berbulir.  Percetakan sawah yang digagas Bupati Lingga Alias Wello pada 1 Maret 2016 dan dilakukan penanaman perdana pada 24 Maret 2016 tersebut, diprediksi jika tidak ada kendala akan segera panen menjelang hari raya Idul Fitri mendatang.

Adi Indra Pawennari penanggung jawab percetakan Sawah mengatakan, saat ini 5 hektare lahan sawah telah mulai mengeluarkan bulir-bulir padi. “Kalau cuacanya mendukung, minim curah hujan, mungkin sebelum lebaran sudah panen,” ungkap Ady bersemangat, Selasa (7/6) sore.

Percetakan perdana ini, akan menjadi jawaban dari langkah Awe sapaan akrab Bupati Lingga dalam mewujudkan Lingga sebagai lumbung beras Kepri. Ditambah lagi, waktu panen yang hanya tinggal sebulan kedepan, bertepatan dengan hari raya Idul Fitri akan menjadi momentum besar harapan dan visi Awe mewujudkan 3.000 hektare lagi sawah dikabupaten Lingga.

“Hari ini kita sudah bisa lihat langsung hasilnya. Padi yang baru kemarin kita tanam bersama,” timpalnya.

Untuk per hektar sawah, disampaikan Adi diperkirakan akan menghasilkan 3 sampai 5 ton beras. Jika 5 hektare lahan percetakan perdana dapat dipanen, diprediksi 15 sampai 25 Ton beras lokal dihasilkan sawah Sungai Besar pada panen perdana nanti.

 

Keterbatasan Pupuk dan Pestisida

 

Adi Indra Pawennari, Pimpro percetakan sawah mengatakan kendala di lapangan pengelolaan sawah perdana di Sungai Besar adalah masalah ketersediaan pupuk dan pestisida. Meski tanah yang subur dan irigasi yang dibuat begitu membantu percetakan sawah, namun menjelang panen perdana perlu penangan ekstra agar padi yang telah berbulir tidak mati dimakan hama.

Hingga saat ini, kata Adi, belum ada upaya pemerintah membantu ketersediaan ketahanan pangan Kepri. Seperti penyediaan pupuk subsidi yang telah beberapa kali disampaikan dalam pertemuan langsung dengan pemerintah pemprov beberapa waktu lalu.

“Kendala utama dipenanaman perdana ini adalah ketersediaan pupuk dan obat-obatan pengendali hama seperti pengerek batang dan walang sangit,” ungkapnya.

Untuk mencukupkan kebutuhan pupuk pihaknya mendatangkan langsung dari Jambi maupun langsung dari pulau Jawa. Padahal, kata Adi, kedua kebutuhan petani ini tidak boleh jauh dan harus selalu tersedia. Jika tidak, akan mengancam hektaran sawah yang telah ditanami.

 

Pupuk dan obat pengendali hama, dikatakan Adi, selama ini yang digunakan sawah Sungai Besar adalah nonsubsidi. Alias, bukan bantuan pemerintah yang artinya menambah ongkos produksi dan jauh lebih mahal.

“Sampai saat ini, saya masih datangkan yang nonsubsidi dari Jambi,” paparnya.

Diakuinya, perbedaan harga sangat signifikan. Tiga jenis pupuk yang menjadi kebutuhan sawah dikatakan Ady seperti Urea Rp 6.500/Kg, TSP Rp 6.500/Kg dan NPK Rp 7.000/Kg. “Padahal jika ada pupuk subsidi, harganya jauh lebih murah. Urea saja hanya Rp 2.000/Kg. Tentu sangat membantu,” katanya.

Ia berharap, menjelang panen perdana ini, pemerintah Kepri secepatnya menyediakan pasokan pupuk subsidi maupun obat pengendali hama ke Lingga. – Muhammad Hasbi

Komentar

komentar