24 Mei 2016

106 Cagar Budaya di Kabupaten Lingga

By Admin Web In Budaya

Oleh Ildaf Al Kiad 

KABUPATEN Lingga adalah negeri bersejarah. Banyak tersimpan khazanah warisan sejarah dari masa lalu. Sebagian warisan sampai saat ini masih dapat disaksikan. Berbagai warisan khazanah budaya itu sebagian telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya.

Pemerintah dan pemerintah daerah patut melindungi, memanfaatkan dan mengelola Cagar Budaya sebaik mungkin. Masyarakat perlu turut juga berpartisipasi dan diberikan sosialisasi tentang Cagar Budaya. Cagar Budaya diatur dalam UU no 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Apakah yang disebut Cagar Budaya? Dalam UU ini Pasal 1:

FullSizeRender (2)

IMG_6974

IMG_7130

Paberik Sagu yang ditetapkan sebagai Cagar Budaya di Daik Lingga.

Ayat 1 disebutkan Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Ayat 2, dijelaskan,  Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/ atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa- sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.

Ayat 3:  Bangunan Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding, dan beratap.

Ayat 4: Struktur Cagar Budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana, dan prasarana untuk menampung kebutuhan manusia.

Ayat 5: Situs Cagar Budaya adalah lokasi yang berada di darat dan/atau di air yang mengandung Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, dan/atau Struktur Cagar Budaya sebagai hasil kegiatan manusia atau bukti kejadian pada masa lalu.

Ayat 6: Kawasan Cagar Budaya adalah satuan ruang geografis yang memiliki dua Situs Cagar Budaya atau lebih yang letaknya berdekatan dan/atau memperlihatkan ciri tata ruang yang khas.

Sebagai daerah yang punya banyak warisan cagar budaya pemerintah daerah telah menetapkan seratus enam cagar budaya lewat Keputusan Bupati yang lalu.

Pada 14 Januari 2010 Bupati Lingga telah mengeluarkan Keputusan Bupati Lingga No 08/KPTS/I/2010 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Cagar Budaya Tidak Bergerak dan Benda Cagar Budaya Bergerak di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau .

Dalam Keputusan ini telah ditetapkan 106 Cagar Budaya.

Kecamatan Lingga daerah terbanyak yang memiliki cagar budaya dengan jumlah 66 buah. Sesuai Keputusan Bupati penanganan pelestarian dan pengembangan serta pemanfaatan bangunan cagar Budaya di atur dalam Perda Cagar Budaya. Barulah pada 18 Maret 2014 keluar Perda No 2 tahun 2014 tentang Pengelolaan Cagar Budaya sebagai tindak lanjut dari amanah keputusan Bupati tersebut.

Sesuai dengan Perda pasal 4:

 Ayat 1: Bupati memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan pengelolaan cagar budaya, baik didarat maupun di air.

Ayat 2: Pelaksanaan wewenang dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada (1) pasal ini dilaksanakan oleh Dinas.

Dinas yang dimaksud adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sesuai dengan ketentuan umum pasal 1 ayat 5, dikatakan Dinas adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Peran serta masyarakat dalam pengelolaan cagar budaya juga sangat diperlukan sesuai dengan amanah perda yang telah dibuat. Peran serta masyarakat dalam perda tersebut diatur dalam Pasal 17:  Ayat 1. Masyarakat berperan serta dalam pengelolaan cagar budaya; Ayat 2. Peran masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dilaksanakan dalam bentuk:  a. Menerima dan memberikan informasi tentang cagar budaya dan pelestarian;  b. Menyatakan keberatan secara tertulis maupun lisan terhadap kebijakan pemerintah yang menimbulkan dampak negatif bagi cagar budaya; c. Menyampaikan laporan tentang temuan, kerusakan dan kehilangan cagar budaya; d. Memberikan masukan sebagai bahan pengambilan keputusan.

Ayat 3: Terhadap masyarakat, lembaga, kelompok, perorangan yang aktif dalam pelestarian dan / atau dalam memberikan informasi tentang cagar budaya, pemerintah daerah dapat memberikan penghargaan.

Ayat 4: Pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) di atas dilakukan berdasarkan pada rekomendasi Tim yang dibentuk oleh Dinas.

Seratus enam cagar budaya itu bukan saja kesemuanya milik pemerintah daerah, namun ada juga sebagian milik masyarakat. Beberapa Cagar budaya milik masyarakat itu masih ada dipergunakan, seperti rumah yang masih didiami oleh ahli waris.

Contohnya Cagar Budaya Rumah Datuk Laksamana Lingga dan Rumah Tengku Muhammad Saleh Damnah yang masih didiami oleh keluarga dari ahli waris.

Beberapa benda cagar budaya lainnya ada juga yang masih dipajang oleh pemilik di halaman rumah seperti Meriam Katak yang terletak dihalaman rumah Said Husin dan Jangkar Kapal Sultan di halaman rumah Sayed Luai Ralib dikampung kenanga Daik.

Cagar budaya Paberik Sagu di kampung tanda Hilir Daik sampai sekarang masih beroperasi sebagai pabrik sagu milik Keluarga pengusaha Tionghua di Daik, inilah satu – satunya paberik tua yang telah merangkap sebagai cagar budaya di Kepulauan Riau.

Paberik ini bukan saja tua namun juga masih mengolah sagu secara tradisional tanpa ditunjang peralatan modern. Bagi peminat sejarah, budaya ataupun wisawatan yang berkunjung ke Kabupaten Lingga bisa mengunjungi satu persatu cagar Budaya yang ada.

Selepas Keputusan Bupati dan Perda Cagar Budaya ditetapkan pemerintah Kabupaten Lingga sampai saat ini melalui Dinas terkait belum mengadakan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Akibat kurangnya sosialisasi sebagian besar masyarakat tidak tahu dan kurang mengerti tentang cagar budaya dilingkungannya.

Dengan adanya sosialisasi masyarakat akan mengerti begitu pentingnya cagar budaya dan akan turut sama menjaga dan melindungi. Pemerintah daerahpun akan mudah untuk bekerja sama dengan masyarakat dalam mengelola cagar budaya. Pihak – pihak dimasyarakat yang perlu di berikan sosialisasi terutama masyarakat yang memiliki dan yang berada dilingkungan Cagar Budaya. Sosialisasi bukan saja hanya memberikan berbagai informasi namun juga sebagai pemberi pencerahan, agar masyarakat memahami dan mencintai Cagar Budaya.

 

Foto Utama: Ildaf Al Kiad (Rumah Tengku Muhammad Saleh Damnah). Foto isi: Muhammad Hasbi (Paberik Sagu)

 

 

Komentar

komentar